Tantangan Seorang User Experience Engineer

Diposting pada

Tantangan Seorang User Experience Engineer – Seorang UX (User Experience) Engineer memiliki tugas menghasilkan pengalaman terbaik bagi pengguna saat menggunakan sebuah produk. Kedengarannya memang sederhana, tetapi pekerjaan ini membutuhkan pengetahuan mendalam di sisi desain maupun teknis. Hal itu diungkapkan Sonny Lazuardi, pria yang berprofesi sebagai UX Engineer di salah satu perusahaan ride-hailing terkemuka di Asia Tenggara. Tugas utama dari seorang UX Engineer adalah bekerja sama dengan Product Manager, Designer, dan Researcher untuk menghasilkan fitur-fitur baru, ungkap Sonny.

Biasanya, hasil kerja tim UX Engineering ini berbentuk prototipe dan tools untuk desain, tambah pria yang kini berdomisili di Singapura tersebut. Keahlian Sonny sebagai UX Engineer dimulai sejak bangku kuliah di ITB. Saya dulu sering ikut lomba web design dan lomba IT lainnya. Dari banyaknya lomba yang saya ikuti, saya belajar banyak, apalagi saat kalah, ungkap Sony. Di tingkat akhir perkuliahan, Sonny kemudian banyak mengambil proyek freelance sebagai sarana belajar menghadapi dunia industri sesungguhnya.

Setelah lulus kuliah, ia bekerja sebagai Front-End Engineer di SaleStock (sekarang bernama Sorabel). Selama dua tahun bekerja di SaleStock, Sonny banyak mengerjakan desain situs web dan aplikasinya. Perjalanan karier Sonny kemudian memasuki fase baru setelah ia diterima bekerja di perusahaan ride-sharing ini. Waktu itu saya tertarik karena tim UX Engineer baru saja dibentuk dan saya juga tertarik dengan dunia desain, kenang Sony.

Menurut Sonny, seorang UX Engineer harus memiliki kemampuan dasar di bidang web development. Kita harus memiliki kemampuan algoritma dasar dan struktur data, Javascript, HTML, CSS, React, dan Git, ungkap Sonny. Selain itu, seorang UX Engineer sebaiknya juga dapat menggunakan aplikasi desain seperti Sketch atau Adobe Illustrator. Sedangkan untuk perangkat lunak untuk mendukung produktivitas kerja, Sonny sedikit menjabarkan deretan perangkat lunak yang selama ini ia gunakan. Biasanya saya pakai VS Code (untuk teks editor), Sketch, Figma, Xcode (untuk aplikasi iOS), iOS Simulator/Android Simulator, Licecap (tools untuk capture GIF), Slack, dan Google Drive, ujar Sonny.

Untuk mahir menggunakan semua alat tersebut, Sonny mengaku kebanyakan belajar sendiri lewat internet. Namun, Sonny menyebut ilmu dasar yang ia dapat dari bangku kuliah juga berperan penting. Meskipun tools dan bahasa yang digunakan di pekerjaan sangat berbeda dengan yang diajarkan saat kuliah, ilmu dasar dari kuliah sangat membantu untuk membentuk pola pikir,” ungkap Sonny. Ketika ditanya tantangan terbesar di pekerjaannya saat ini, Sonny menyebut soal tenggat waktu. Menurut saya, tantangan yang umum selama menjalani profesi UX Engineer adalah menentukan durasi penyelesaian sebuah proyek, ungkap Sonny.

Tantangan lain adalah melakukan komunikasi dengan desainer dan peneliti terkait hal teknis, terutama saat ada sesuatu yang tidak mungkin secara teknis. Di luar faktor teknis, Sonny juga menyebut masalah bahasa sebagai tantangan tersendiri. Apalagi, Sonny saat ini bekerja di luar Indonesia. Namun seiring berjalannya waktu, saya bisa menyesuaikan dan bekerja sama dalam tim, ungkap Sonny. Masalah budaya pun menjadi tantangan tersendiri. Karena budaya di sini adalah tepat waktu. Jadi sebisa mungkin kita tidak terlambat dalam menghadiri meeting atau menyelesaikan tugas yang diberikan, tambahnya.

Pernah Mempelajari Tentang SEO

Sony mengaku sebelum dirinya memutuskan bekerja di sebuah perusahaan dan menjadi UX Enginer, dia pernah mempelajari ilmu SEO. Ilmu seo mempelajari tentang bagaimana mengoptimasi sebuah kata kunci pada situs agar bisa masuk dan bertahan di halaman mesin pencari. Dirinya sempat belajar selama beberapa tahun dan ingin menjadi seorang pakar seo terpercaya di semarang, namun niatnya terhenti ketika mendapatkan tawaran kerja dari sebuah perusahaan besar di kawasan Asia.