Jadian Ala Anak Sd Bagian 2

Diposting pada

sat-jakarta.com – Konsep diri yang kuat juga berawal dari seringnya anak dilatih untuk berpikir, memilih, dan mengambil keputusan. Kebiasaan ini bisa dilakukan dari hal-hal yang sederhana. Ketika diajak makan ke restoran, persilakan anak memilih menu yang diinginkannya. Bila ia mengatakan terserah, tawarkan pilihan dengan mendeskripsikan menu yang ada, sampai anak benar-benar memilih dan memutuskannya sendiri. Proses ini memang memerlukan kesabaran orangtua, namun lihatlah dari sisi manfaat, yaitu anak akan terbiasa memutuskan yang terbaik untuk dirinya. Bekal inilah yang akan membuatnya tak mudah ikutikutan lingkungan kelak.

Jika Mulai “Jatuh Cinta”

Jikapun anak sudah memiliki kedekatan dengan salah satu teman lawan jenis, tak perlu memunculkan kekhawatiran berlebihan. Biasanya mereka agak “berubah”. Kalau dulu kurang peduli pada penampilan, tibatiba jadi senang berdandan. Ia menyisir rapi rambutnya bahkan meminjam minyak wangi Mama. Mereka tak bisa lepas dengan gadget-nya untuk SMS-an, update status, atau chatting. Bukalah percakapan dengannya.

Agar mulus, mulailah dengan bercerita tentang pengalaman Mama/Papa saat naksir teman waktu sekolah dulu. “Papa dulu pernah suka dengan teman sekelas. Papa lalu tulis surat, terus menyimpannya di kotak pensil dia.” Cerita ini jadi semacam empati bagi anak dan membuatnya tak sungkan berbagi perasaan pada kita. Bila ia mulai terbuka, bertanyalah lebih lanjut “Kakak senang Sasha karena apa sih?” Mungkin ia akan bilang bahwa Sasha cantik, pintar, dan baik.

Seperti kesukaan anak pada idolanya, minta ia mencontoh sikap, dan nilai-nilai positif dari idolanya itu. “Kalau Kakak suka Sasha karena pintar dan baik hati, berarti Kakak juga harus harus pintar dan baik seperti itu. Kalau nanti di sekolah baru Kakak tidak ada Sasha. Kakak tetap bisa berprestasi kan?” Orangtua bisa sekaligus mengajarkan edukasi seks. Tekankan bahwa tak ada orang lain yang boleh menyentuh bagian-bagian tubuh yang tertutup, terutama payudara dan vagina (bagi perempuan) atau penis bagi laki-laki).

Begitu juga kita tidak boleh memegang bagian-bagian sensitif milik teman. Bila buah hati ingin bepergian bersama “si pacar” tak perlu dilarang, namun tetap perlu pendampingan orangtua. Nah, survei pendapat anakanak SD tentang pacaran ini semoga bisa membuat kita lebih memahami apa yang ada dalam pikiran buah hati.