Jadian Ala Anak Sd Bagian 1

Diposting pada

pascal-edu.com – Perasaan tertarik kepada lawan jenis ternyata mulai tumbuh di usia 9 tahunan. Ini kirakira pada anak-anak kelas 4 SD. Di usia ini anak sudah dapat mendeskripsikan bahwa Lana itu cakep sementara Riedo adalah anak yang pintar, dan sebagainya. Tertarik pada lawan jenis, merupakan dorongan masa praremaja (puber) yang sekarang tampaknya datang lebih cepat.

Beberapa anak perempuan kelas 5 SD sudah mendapat menstruasi, sementara anak lelaki sudah mimpi basah. Ketertarikan pada lawan jenis bisa juga lantaran pengaruh lingkungan, terutama sinetron di televisi. Perilaku orangtua juga bisa mendorong persepsi anak mengenai pacaran. “Pacarmu siapa sih di kelas, Kak? Katanya Jojo ya? Cieee…cieee…ayo dong cerita ke Mama!” Ada juga dinamika yang terjadi di antara peer group tentang konsep jadian ini.

Misal, anak-anak kelas 6 di suatu SD mengaku diberi semacam “tugas” oleh geng-nya bahwa sebelum berpisah sekolah, mereka harus sudah punya pacar. Karena itulah, mereka harus “nembak” teman yang disuka. Karena “tugas” ini, anak-anak yang berani, termasuk anak perempuan, akan menyatakan perasaan suka pada kawan lawan jenisnya.

Bukan Berarti Pacaran

Meski konsep jadian dipersepsikan oleh anak-anak SD sebagai pacaran, sesungguhnya konsep itu lebih mengarah pada punya teman dekat yang lawan jenis. Bukan pacaran dalam konsep orang dewasa. Ketika temannya yang laki-laki dan perempuan mengobrol berdua, pergi ke kantin bersama, dijajanin, dan sebagainya, itu sudah dianggap pacaran. Meski wajar anak-anak SD membicarakan soal pacaran, namun kita tak perlu mendorongnya ke arah itu.

Emosi si usia sekolah di masa puber yang masih labil, terkadang menyebabkan “cinta monyet” ini bisa berdampak ke mana-mana. Seperti, memengaruhi nilai pelajaran, dan sebagainya. Lalu bagaimana cara membentengi anak agar tak ikutikutan teman-temannya yang sudah “berpacaran”? Bangunlah konsep diri yang kuat padanya. Konsep diri yang kuat bermula dari “kantong” jiwa yang kuat.

Pola asuh yang positif (banyak memberi pujian, penghargaan, kasih sayang serta keterbukaan komunikasi) diyakini bisa mengisi “kantong” jiwa anak dengan hal-hal positif. Anak yang memiliki kantong jiwa yang kuat, tak akan mudah terpengaruh oleh lingkungan. Sebaliknya, kantong jiwa yang tidak dibangun kuat, ibarat balon kempes yang mudah ditiup angin sehingga bergerak tanpa arah. Sering mendapat cacian, hinaan, kerap diremehkan, umumnya akan membuat kantong jiwa yang kempes ini.