7 Tahun “Jangan Diam, Papua”: Nyanyian Tapol Papua

Diposting pada

Pada awal April 2013, belasan orang berkumpul di kediaman pelajar di Papua Kamasan 1, Jogja, untuk membahas berita sedih: Lusinan orang telah terbunuh sejak akhir 2012 di distrik Koor, Kabupaten Tambrau, Papua Barat. Mayoritas kematian, termasuk anak-anak dan perempuan, disebabkan oleh kekurangan gizi dan kekurangan gizi. Menurut Aliansi Masyarakat Adat Masyarakat Adat (AMAN) Sorong Nusantara saat itu, pemerintah daerah tidak memberikan banyak perhatian kepada penduduk setempat. Setidaknya 300 orang menderita kekurangan gizi dan edema lapar di Koure pada saat itu.

Pelajar, pekerja, aktivis, Perhimpunan Pelajar Aceh, dan banyak elemen lainnya hadir di asrama Papua dengan keprihatinan yang sama. Meskipun latar belakang mereka berbeda, niat mereka hanya satu, yaitu, orang biasa dapat melakukan apa saja untuk menarik perhatian tragedi ini kepada publik. Akhirnya, tahap solidaritas dengan Tambrauw diadakan nol di Yogyakarta pada bulan yang sama.

Dalam lingkup pertemuan puluhan orang di asrama Kamasan hingga Hari D Solidaritas, Yab Sarpote menulis lagunya, “Don’t Be Calm Papua.” Lagu ini disuarakan untuk pertama kalinya dengan grup musik sebelumnya, Ilalang Zaman, di atas panggung.

Sejak itu, lagu ini sering dinyanyikan oleh Yab Sarpote di Street dan Non-Stages Stage di sekitar Papua Barat. Dimulai dengan peringatan tiga puluh lima kota Mambicak, kampanye untuk melanggar hak asasi manusia di Papua Barat, dan memperingati kematian Arnold C.P., salah satu musisi legendaris di Papua Barat yang dibunuh oleh rezim baru.

Dari lagu musikal, lagu ini memiliki dua versi. Yang pertama adalah versi band penuh yang ditulis oleh Ilalang Zaman dan sejumlah anggota Aliansi Mahasiswa Papua. Versi ini dirilis pada November 2013. Setelah Ilalang Zaman dibubarkan pada 2015, Yab Sarpote merilis versi audio dari lagu triple dengan Yolanda Tatogo dan (alm) Mateus Auwe. Versi kedua kemudian dirilis dalam album kolase “Papua That We” (2015), sebuah album solidaritas dengan Papua Barat, bersama dengan musisi lain seperti Iksan Scooter, Comb of the Land, Ilmuwan Terakhir, Simponi Terakhir, feat Siksa Kubur . Kamar mayat Vanguard. Album papua ini dirilis pada sebuah konser pada Juni 2015 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Bagi Yab Sarpote, “Don’t Be Silent, Papua” adalah novel yang berlawanan dan kebencian terhadap karya seni secara umum, dan musik khususnya, terutama di media arus utama yang membahas mayoritas Papua dengan eksotisme dan cenderung kolonialisme, tetapi menghilangkan represi dan penderitaan rakyat Papua Barat Karena eksploitasi alam dan perluasan industrialisasi.

Untuk Yab, lagu ini mencoba untuk menuntut bias nasionalis buta yang melekat pada banyak orang Indonesia yang telah tumbuh dalam membangun media arus utama di Indonesia yang cenderung aneh dan kolonial. Lagu ini mencoba mengatakan bahwa perlawanan rakyat Papua terhadap ketidakadilan, eksploitasi dan perampasan ruang hidup layak dilakukan untuk membebaskan hidup mereka.

Sejak awal lagu ini, Yap sendiri menganggap bahwa lagu ini tidak memiliki niat komersial. Yap mempersembahkan lagu ini sepenuhnya untuk menjadi salah satu sahabat perjalanan dan lagu soul bagi orang-orang yang peduli dengan nasib Papua Barat, baik dari penduduk Papua atau non-Papua. Kriteria untuk mencapai lagu ini bukanlah seberapa banyak uang yang diperoleh, tetapi seberapa dekat lagu itu dengan kepala mereka yang berjuang untuk Papua Barat.

Yap merasakan pencapaian ini dengan satu dan lain cara ketika ia meneriakkan “Jangan Diam, Papua” di sekelompok acara mahasiswa di Babuan yang dihadiri oleh Yap. Prestasi ini bahkan lebih nyata ketika 6 tahanan politik Papua Barat menyanyikan lagu-lagu pra-sidang mereka di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, pada 13 Januari 2020. Para tahanan politik ini adalah Anta Suriah, Charles Kousai, Dano Taponi, Izai Wanda, Izai Wanda, Ambrosius Mulet, dan Ariana Ellberry. Para tahanan politik ini dikriminalisasi hanya karena demonstrasi yang mereka selenggarakan untuk mengekspresikan pandangan politik mereka tentang Papua Barat di tempat-tempat umum.

Bagi Yab, menyanyikan lagu ini oleh para tahanan politik Papua adalah bentuk bagaimana lagu itu menjadi teman yang bergerak dan nada spiritual untuk perjuangan yang benar-benar ada. Lagu ini bukan lagi hiasan teater musikal, atau hanya nada pada saluran dan perangkat digital, tetapi lagu yang berbicara keras di jalanan, di dinding penjara dan pengadilan, pada polisi, hakim, dan lembaga negara yang sedang menjaga penindasan dan kesengsaraan rakyat Papua terus berlanjut. Ketika tubuh tidak bisa menembus jeruji besi dan menjaga pasukan bersenjata, lagu itu tumbuh di kepala orang-orang yang lapar untuk kebebasan, kebebasan, dan keadilan.